Unordered List

SELAMAT DATANG DIBLOG KKG PAI KAB.MALANG''''SALAM BAHAGIA,DAMAI, SEJAHTERA LAHIR DAN BATHIN & SUKSES UNTUK SEMUA''''''SELAMAT BERKARYA MEMPERSIAPKAN GENERASI MASA DEPAN BANGSA YG UNGGUL DIMASANYA, BUKAN HANYA CERDAS OTAKNYA TETAPI CERDAS PULA HATI DAN PIKIRANNYA " Jika anda ingin mengetahui masa depan anda......., perhatikanlah apa yang sedang anda pikirkan & kerjakan sekarang. ......’Apapun yang anda kerjakan dengan sungguh-sungguh sekarang ini..........adalah pembentuk keberhasilan anda di masa depan, Maka bijaklah anda dalam memilih apa yang harus anda kerjakan sekarang.’’

Selasa, 28 Juni 2016

PENDIDIKAN JAMAN KEJAYAAN ISLAM

SUBHAANALLAH, INILAH CARA HARUN AL-RASYID MENDIDIK ANAKNYA


Di bawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid (786-809 M), Khalifah kelima Dinasti Abbasyiyah, umat Islam mengalami masa keemasannya. Seluruh penerjemah Muslim, Yahudi dan Kristen berkumpul di Baghdad untuk mengalihbahasakan naskah-naskah ilmu pengetahuan dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab.<>
Pusat-pusat kajian digalakkan oleh pemerintah sementara para ulama dan intelektual rajin menulis karya-karya mereka. Baghdad menjadi tujuan belajar dan detak jantung peradaban dunia. Di masa ini ilmu sangat dihargai dan para ilmuan mendapatkan perlakuan yang istimewa oleh masyarakat bahkan oleh Khalifah Abbasyiah sendiri.
Khalifah dan para Wazir menyerahkan anak-anak mereka kepada para ulama dan ilmuwan Islam untuk diasah akal dan moralnya. Di hadapan para ulama dan imuwan muslim, tidak ada perlakuan khusus bagi anak-anak pejabat negara. Sebaliknya, para anak pejabat tersebut diharuskan menunjukkan sikap hormat yang tinggi terhadap guru mereka sebagai bukti penghargaan mereka terhadap ilmu pengetehuan.
Suatu ketika Harun Ar-Rasyid mengirimkan anaknya kepada Imam al-Asma’i untuk belajar ilmu dan budi pekerti. Kemudian di suatu hari Harun Ar-Rasyid melihat anaknya menyiramkan air ke kedua kaki gurunya itu untuk berwudhu’, sementara sang guru membasuh dan membersihkan kakinya sendiri.
Melihat hal ini, Harun Ar-Rasyid merasa tidak senang. Kemudian ia berkata kepada Imam Ashma’i: “Aku mengirimkan anakku kepada anda untuk diajarkan ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Mengapa anda tidak menyuruhnya menyiramkan air dengan salah satu tangannya dan membasuh dan membersihkan kaki anda dengan tangannya yang lain?”
Demikianlah tradisi yang berlaku dalam dunia Islam di masa itu. Sebuah masa yang telah berhasil mengantarkan umat Islam mencapai puncak kemajuannya dan berhasil menyumbangkan khazanah ilmu pengetahuan bagi masyarakat dunia.

Jumat, 24 Juni 2016

TUKANG BATU DICIUM ROSULULLAH SAW.

Kisah Si Tukang Batu Yang Di Cium Rasulullah SAW 

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.
Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasul pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,
“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.
* Rasulullahl tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.
Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)
* Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.
”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kam di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)
”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)
* ”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)
”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)
”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)
”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)
”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad) 

Rabu, 15 Juni 2016

PESAN KH.HASYIM MUZADI UNTUK GPAI



Jakarta, PendidikanIslam.id – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres KH Hasyim Muzadi memberikan pembekalan kepada para guru dan pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) dari 33 provinsi di Indonesia. Ia hadir dalam dalam kegiatan sarasehan nasional yang diseleggrakan oleh Direktorat PAI Kementerian Agama di Jakarta, Senin (13/6).
Kepada para guru dan pengawas PAI Kiai Hasyim berpesan, fokus pendidikan agama Islam tidak hanya memberikan informasi mengenai ajaran agama. Namun lebih dari itu adalah pengamalan ajaran agama dan penanaman akhlak.
“Jangan sampai pendidikan agama Islam itu hanya jadi berita agama, bukan amal dan akhlak,” pesannya di hadapan sekitar 400 perwakilan guru dan pengawas PAI se-Indonesia dari mulai tingkat TK, SD, SMP dan SMA/SMK.
Menurutnya, para guru PAI tidak boleh jam hanya mengandalkan pertemuan dengan para siswa di kelas dengan jam atau waktu yang terbatas. Para guru perlu mengawal perilaku keseharian siswa di luar jam berlajar PAI. Lebih dari itu para guru PAI harus bisa menjadi acuan para siswa dalam hal pengamalan agama dan akhlak.
Dalam kesempatan itu, mantan ketua umum PBNU itu juga mengingatkan bahwa jam pelajaran agama yang terbatas tidak bisa hanya diisi dengan olah pikir atau mengasah otak saja, karena di luar materi agama otak para siswa sudah berisi materi pelajaran yang lain.
Menurut Kiai Hasyim, para siswa perlu dibekali dengan olah rasa melalui diversifikasi pengajaran agama. “Sekalipun otak mereka terisi tapi hati mereka kosong. Nah yang kosong itu kita isi, karena otak mereka sudah penuh,” katanya.
Salah satu metode mengisi hati siswa yang kosong itu adalah dengan membiasakan mereka melakukan shalat-sahal sunnah dan membaca Al-Qur’an meskipunr mereka tidak mengetahui maknanya. “Dibaca saja Al-Qur’annya, lama-lama di hati mereka akan ada rasa. Setelah itu baru (otak) mereka kita isi,” kata Kiai Hasyim.
Pertemuan singkat dengan KH Hasyim itu dimanfaatan oleh para guru PAI untuk berdialog mengenai berbagai hal, antara lain mengenai pola pemahaman keagamaan masyarakat, pengembangan paham-paham transnasional, kondisi terkini di Timur Tengah, sampai respon umat Islam terhadap persolan pemilihan kepala daerah serentak terutama untuk DKI Jakarta. (Anam)